Selasa, 10 Januari 2012

TV 3D Masih Bergantung Pada 'Mata Empat'


Jakarta - Setelah masa-masa perkenalan sejak tahun 2010, TV yang menampilkan gambar tiga dimensi (3D) diyakini bakal semakin dilirik pada 2012. Namun sayang, perangkat ini masih sulit lepas dari 'mata empat'.

Ya, seperti yang Anda kira, untuk menikmati TV 3D ini, pengguna masih membutuhkan kacamata khusus.

Menurut Eko Adhi Suyitno, Product Manager Flat Panel Display PT LG Electronics Indonesia, memang saat ini sudah ada teknologi yang memungkinkan melepas kacamata agar bisa menikmati 3D.


"Hanya saja untuk sampai ke masyarakat sepertinya belum akan terjadi di 2012 ini, selain itu secara kualitasnya pun masih belum optimal," tukas Eko, dalam perbincangan dengan beberapa wartawan di Djakarta Theater, Rabu (11/1/2012).

Pun demikian, teknologi di balik kacamata tersebut juga telah dikembangkan sehingga tak lagi 'individualis'. Maksudnya, dapat digunakan lebih banyak orang untuk menonton tampilan 3D secara bersama-sama.

"Sehingga kita yakin pada tahun 2012 ini, pasar TV 3D akan semakin besar. Terlebih dari sisi konten juga akan lebih banyak yang mendukung. Dimana nantinya akan ada siaran 3D pertama di Indonesia," tukas Eko, yang enggan menyebut penyedia konten 3D yang dimaksud.

Perusahaan analis Gfk memprediksi, total permintaan TV 3D nasional sepanjang 2012 akan mencapai 200 ribu unit. Jumlah ini melonjak dari catatan penjualan TV 3D di tahun lalu yang berkisar 60 ribu unit.

Pencapai itu pun akan berdampak pada penjualan TV LED menjadi 60 ribu unit setiap bulannya. Pasalnya, TV LED merupakan basis teknologi yang dipakai dalam TV 3D.

LG sendiri berambisi menggenjot penjualan TV 3D-nya, dengan target 6.000 unit per bulan di 2012. Jumlah ini jauh lebih besar dari total penjualan TV 3D secara nasional pada tahun 2010 lalu yang cuma meraih 4.000 unit.

Ambisi tersebut pun akan diselaraskan dari sisi teknologi. Dimana TV 3D LG nantinya bakal mengusung bingkai layar (bezel) yang lebih tipis hingga hampir menyatu dengan layar (cinema screen). Selain itu ada pula tata suara 3D melalui fitur 3D sound zooming.

Adapun yang tetap dipertahankan adalah teknologi Film Patterned Retarder (FPR). Menurut Eko, FPR masih dipercaya untuk mengeliminasi berbagai kelemahan TV 3D generasi sebelumnya yang menggunakan teknologi Shutter Glasses (SG).

"Penggunaan kacamata teknologi shutter glasses terkadang menimbulkan rasa pusing akibat efek kedipan mata (flicker) dan gelombang elektromagnetik dari perangkat elektronik yang tertanam pada kacamatanya," kata Eko.

"Hal inilah yang membuat pasar TV 3D pada tahun 2010 cenderung lesu. Namun penerimaan TV 3D berbalik tajam di 2011 setelah LG memperkenalkan Cinema 3D TV dan penerapan teknologi FPR," ia menandaskan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar